Siap Hadapi Lonjakan Limbah Baterai Tahun 2030, BRIN Terapkan Konsep Daur Ulang Sel Bekas
25 June 2026
Kendaraan listrik memang terus berkembang pesat di Indonesia. Namun, perkembangannya masih dibayangi oleh sejumlah tantangan besar, mulai dari kapasitas baterai, jarak tempuh, hingga waktu pengisian daya. Kondisi inilah yang akhirnya mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, untuk mempercepat pengembangan teknologi baterai yang jauh lebih efisien, aman, dan tentunya terjangkau bagi masyarakat luas.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Material Energi BRIN, Sudaryanto, menegaskan bahwa baterai merupakan komponen paling vital dalam pengembangan kendaraan ramah lingkungan ini. Oleh karena itu, riset yang dilakukan saat ini sangat berfokus untuk meningkatkan kinerja baterai, sekaligus menjawab berbagai keraguan masyarakat soal kelayakan mobil listrik. Ia menjelaskan bahwa bahan baku utama seperti litium, nikel, mangan, dan kobalt adalah material kritis yang stoknya sangat terbatas dan harus dikelola dengan ekstra efisien. Hal ini memicu para periset untuk terus mencari material alternatif dan menerapkan konsep ekonomi sirkular, agar rantai pasokan industri otomotif tetap berjalan lancar dan berkelanjutan.
Ketergantungan industri pada bahan tambang tersebut memang menjadi masalah tersendiri, terutama terkait isu kerusakan lingkungan. Sudaryanto mengambil contoh nyata soal eksploitasi penambangan kobalt di Kongo untuk kebutuhan baterai ponsel genggam, yang sempat menuai kecaman keras dari dunia internasional. Belajar dari kasus tersebut, para ahli kini berupaya keras mengembangkan jenis baterai baru yang sama sekali tidak menggunakan bahan kobalt. Saat ini sendiri, kebanyakan kendaraan listrik sudah beralih menggunakan baterai litium dengan katoda Lithium Iron Phosphate, yang dikenal punya tingkat keamanan dan daya tahan sangat baik.
Selain urusan bahan baku, ancaman tumpukan limbah baterai juga menjadi persoalan serius yang butuh penanganan segera. Hal ini sejalan dengan Kementerian Perindustrian yang menargetkan produksi kendaraan listrik menyentuh angka enam ratus ribu unit mobil, dan lebih dari dua juta unit sepeda motor pada tahun 2030 mendatang. Studi dari Asian Development Bank bahkan memperkirakan bahwa Indonesia bakal menghasilkan limbah baterai hingga seratus ribu ton per tahunnya. Angka fantastis ini berasal dari bobot baterai mobil yang bisa mencapai enam ratus kilogram per unit, serta baterai motor di kisaran sepuluh hingga tiga puluh kilogram.
Untuk mencegah terjadinya krisis lingkungan akibat limbah tersebut, pihak BRIN sudah menyiapkan strategi khusus berupa pemanfaatan kembali baterai bekas pakai, sebelum benar benar masuk ke tahap daur ulang akhir. Konsep ini memungkinkan sel sel baterai yang masih sehat untuk digunakan pada keperluan lain di luar kendaraan. Menurut penuturan Sudaryanto, dalam satu paket baterai kendaraan yang rusak biasanya hanya ada satu atau dua sel saja yang bermasalah, sementara sisa sel lainnya masih dalam kondisi sangat prima dan amat layak untuk dimanfaatkan ulang.