Moeldoko: Pengolahan Limbah Baterai EV Jadi Pilar Baru Ekonomi Sirkular Indonesia

18 February 2026

Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan serta Ketua Umum Periklindo, Moeldoko, menekankan bahwa pengelolaan siklus hidup baterai untuk kendaraan listrik saat ini telah berubah dari sekadar isu lingkungan menjadi elemen penting dalam ekonomi sirkular di Indonesia. Perubahan paradigma ini berfokus pada peningkatan nilai tambah melalui proses daur ulang dan penggunaan baterai yang sudah tidak terpakai untuk penerapan di tahap kedua. Dengan terus bertambahnya jumlah kendaraan listrik, limbah baterai kini tidak lagi dianggap sebagai sisa industri, tetapi sebagai sumber daya material penting yang krusial untuk keberlanjutan produksi sel baterai di dalam negeri.

Dalam aspek teknis, pengelolaan limbah ini berfokus pada konsep urban mining untuk mengembalikan mineral berharga seperti lithium, nikel, kobalt, dan mangan dari baterai yang telah habis masa gunanya. Dengan penggunaan fasilitas pemurnian yang modern, bahan-bahan tersebut dapat dimasukkan kembali ke dalam proses manufaktur, sehingga mengurangi ketergantungan pada eksplorasi sumber daya baru dan meminimalkan dampak lingkungan. Tindakan ini membentuk sistem produksi closed-loop yang sangat memperkuat fondasi industri otomotif hilir di dalam negeri.

Selain proses daur ulang total, peluang bisnis besar juga muncul dari implementasi Second-Life Battery Energy Storage System (BESS). Baterai dari kendaraan listrik yang mengalami penurunan kapasitas hingga batas tertentu memang tidak lagi ideal untuk digunakan dalam mobilitas, namun masih memiliki kinerja yang sangat baik untuk penyimpanan energi dalam skala stasioner. Penggunaan baterai tahap kedua ini menjadi solusi teknis yang efektif untuk menyeimbangkan beban listrik di pembangkit yang menggunakan sumber energi terbarukan atau sebagai sistem cadangan energi untuk infrastruktur penting seperti pusat data dan kawasan industri.

Ketersediaan regulasi yang memadai dan infrastruktur pengolahan yang baik menjadi faktor penting dalam menarik minat investasi internasional untuk menciptakan ekosistem pengelolaan baterai yang terintegrasi di Indonesia. Dengan menggabungkan teknologi daur ulang dan sistem penyimpanan energi, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin pasar ekonomi berkelanjutan di Asia Tenggara. Perubahan ini tidak hanya ditujukan untuk mencapai kemandirian energi, tetapi juga untuk menjamin bahwa setiap tahap siklus hidup baterai memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi perkembangan industri domestik di masa depan.