Mobil Listrik Selo: Harapan Besar yang Belum Terwujud
23 September 2025
Mobil listrik Selo merupakan salah satu karya anak bangsa yang sempat mencuri perhatian publik pada tahun 2013. Mobil ini dirancang oleh Ricky Elson bersama tim Putra Petir sebagai generasi penerus dari mobil listrik Tucuxi. Nama “Selo” diambil dari bahasa Jawa yang berarti batu, simbol keteguhan dan kekokohan. Selo pertama kali diperkenalkan dalam ajang APEC di Bali dan langsung menarik perhatian karena tampilannya yang futuristik dengan desain mirip supercar. Tidak hanya soal tampilan, performanya pun cukup membanggakan. Berdasarkan data, Selo mampu mencapai kecepatan hingga 220 km/jam dengan jarak tempuh sekitar 250 km dalam sekali pengisian daya, menjadikannya salah satu prototipe mobil listrik lokal paling ambisius yang pernah dibuat.
Sayangnya, perjalanan Selo tidak berjalan mulus. Hingga kini mobil ini belum pernah benar-benar memperoleh izin laik jalan. Hambatan utamanya datang dari regulasi, termasuk persoalan uji emisi dan standar keselamatan. Meski sejatinya mobil listrik tidak menghasilkan gas buang, regulasi otomotif di Indonesia saat itu masih berfokus pada kendaraan berbahan bakar fosil. Selain itu, ketersediaan infrastruktur pendukung juga menjadi kendala besar. Minimnya stasiun pengisian daya, keterbatasan jaringan servis, serta belum adanya ekosistem purna jual membuat produksi massal sulit diwujudkan. Dari sisi finansial, biaya penelitian dan pengembangan yang tinggi juga tidak diimbangi dengan dukungan investasi yang memadai, sehingga Selo hanya berhenti pada tahap prototipe.
Kendati demikian, Selo tetap menjadi simbol semangat dan ambisi Indonesia dalam dunia kendaraan listrik. Proyek ini menunjukkan bahwa talenta lokal sebenarnya mampu melahirkan inovasi otomotif ramah lingkungan dengan kualitas yang membanggakan. Lebih dari itu, kisah Selo mengajarkan pentingnya dukungan regulasi yang jelas, pembangunan ekosistem kendaraan listrik yang menyeluruh, serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, industri, dan akademisi agar inovasi tidak hanya berhenti pada prototipe.
Hingga kini, Selo memang belum diproduksi secara massal, namun semangat di balik pengembangannya masih relevan dengan perkembangan kendaraan listrik saat ini. Banyak pihak berharap, dengan regulasi yang lebih matang, infrastruktur yang lebih siap, serta dukungan investasi yang kuat, proyek Selo bisa kembali dilanjutkan. Pertanyaannya, akankah suatu hari nanti mobil listrik Selo benar-benar hadir di jalanan sebagai kendaraan nasional yang membanggakan?