Bukan Soal Regulasi, Ternyata Ini Alasan Pabrikan Global Masih Ragu Bangun Pabrik EV di RI

04 February 2026

Pemerintah menyadari sepenuhnya bahwa pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia yang masih terbatas menjadi alasan utama mengapa pabrikan global belum terlalu agresif membangun fasilitas produksi di Tanah Air.

Deputi Bidang Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Rachmat Kaimuddin, menjelaskan bahwa keputusan investasi di sektor otomotif sangat bergantung pada hitung-hitungan skala pasar. Pabrikan membutuhkan kepastian bahwa pasar domestik sanggup menyerap produk dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Menurut Rachmat, mendirikan pabrik EV bukan hanya soal kesiapan aturan atau seberapa banyak insentif yang diberikan, melainkan soal logika bisnis jangka panjang. Tanpa jaminan volume penjualan yang memadai, investasi triliunan rupiah akan sulit direalisasikan.

"Secara ekonomi, kalau pasarnya masih kecil memang belum masuk hitungan. Pabrikan itu melihat volume. Mereka butuh kepastian bahwa pabrik yang dibangun nanti bisa beroperasi secara optimal," ujar Rachmat dalam paparannya di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Kondisi ini jelas berbeda dengan negara-negara lain yang sudah lebih dulu menjadi basis produksi EV karena memiliki pasar domestik raksasa atau akses ekspor yang matang. Sementara Indonesia, meski potensinya besar, saat ini masih dalam fase pembentukan pasar.

Oleh karena itu, Rachmat menegaskan bahwa pemerintah kini fokus untuk menggenjot pertumbuhan permintaan terlebih dahulu. Tujuannya adalah menciptakan skala ekonomi yang menarik di mata investor.

"Itulah sebabnya kebijakan kita di awal lebih berat ke sisi permintaan (demand side). Mulai dari insentif, kemudahan regulasi, hingga penguatan ekosistem. Intinya, pasarnya harus kita besarkan dulu," jelasnya.

Strategi ini mulai menampakkan hasil positif. Rachmat menyebut beberapa merek sudah mulai masuk ke tahap perakitan lokal (CKD), sementara yang lain sedang menyusun peta jalan produksi jangka menengah. Namun, ia mengingatkan bahwa transisi menuju pembangunan pabrik berskala penuh tetap butuh waktu. Selain pasar, investor juga menyoroti kesiapan rantai pasok dan infrastruktur pendukung.

Pemerintah menargetkan, ketika pasar EV domestik sudah matang dan volumenya besar, pabrikan akan membangun pabrik dengan sendirinya tanpa perlu "dipaksa" oleh insentif berlebih.

"Kalau volumenya sudah besar, itu akan jadi magnet terkuat. Investor akan datang karena melihat peluang bisnis yang masuk akal," pungkasnya.

Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap Indonesia kelak tidak hanya berakhir sebagai pasar konsumen, tetapi benar-benar bertransformasi menjadi basis produksi EV yang kompetitif.